Senin, 02 November 2020

Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia.

FEB UHAMKA


 Bahasa Melayu sebagai LinguaFranca.

  Bahasa Melayu adalah salah satu anggota dari keluarga bahasa Austronesia, yakni kumpulan bahasa-bahasa yang mempunyai hubungan genetik dan terdiri atas lebih dari 800 bahasa, dituturkan mulai dari Madagaskar di barat sampai Pulau Paskah di timur, dan dari Taiwan di utara sampai Selandia Baru di Selatan.

Bahasa melayu yang merupakan turunan bahasa Austronesian Purba, dimulai sebagai satu dari beberapa varian bahasa yang saling berhubungan erat dan digunakan di Kalimantan Barat, kurang lebih dua juta tahun yang lalu.

Bahasa melayu yang dalam sejarahnya telah lama menjadi bahasa perhubungan (Lingua Franca) antara penduduk-penduduk kepulauan Indonesia dan Nusantara umumnya, telah dipakai sejak zaman Sriwijaya abad ke-7 sampai abad ke-13.Di sepanjang Semenanjung Malaya (termasuk keempat propinsi paling selatan Thailand), meliputi sebagian besar Pulau Sumatera dan di sepanjang daerah pantai Kalimantan, ditemukan suatu mozaik dari berbagai dialek Melayu pedalaman yang berbeda, dari lembah yang satu ke lembah yang lain dan dari satu desa ke desa lain.

Beberapa dari dialek ini, seperti dialek Minangkabau dan Kerinci, itu berlainan sehingga kadang dianggap dua bahasa yang berbeda. Padahal Sumatra dan Semenanjung Malaya sebenarnya merupakan daerah inti atau pusat bahasa dan kebudayaan Melayu, sedangkan dialek Kalimantan mewakili penyebaran lebih lanjut.

Adapun timbulnya kebutuhan suatu lingua franca bagi suatu daerah, yang dikaruniai (atau dibebani) dengan begitu banyak bahasa, bukanlah hal yang mengherankan, khususnya karena kontak antara para penutur bahasa-bahasa ini dan bahasa-bahasa lain menjadi lebih sering, bersamaan dengan berkembangnya perdagangan antar pulau dan perdagangan luar negeri.

Bahwa akhirnya bahasa Melayu mengisi peran tersebut adalah karena lokasinya yang strategis di kedua tepian pantai Selat Malaka, suatu daerah perairan sempit tempat perdagangan laut awal antara India dan Cina terpaksa berlalu-lalang, dan yang menyediakan suatu titik perhentian yang tepat untuk berlindung dari badai musiman atau untuk mengambil air dan makanan segar.

 

Sistem Bahasa Melayu Praktis danSederhana.

  sistem aturan bahasa Melayu, baik kosa kata, tata bahasa, atau cara berbahasa, mempunyai sistem yang lebih praktis dan sederhana sehingga lebih mudah dipelajari. Sementara itu bahasa Jawa atau bahasa Sunda mempunyai sistem bahasa yang lebih rumit. Dalam kedua bahasa itu dikenal aturan tingkat bahasa yang cukup ketat. Ada tingkat bahasa halus, sedang, kasar, bahkan sangat kasar, dengan kosa kata dan struktur yang berlainan.

 

KebutuhanPolitik.


Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari, selain tentunya sebagai alat komunikasi, bahasa juga merupakan identitas budaya suatu bangsa yang menandakan kekayaan bangsa tersebut. Maka sangat beruntung negara kita memiliki beraneka ragam bahasa daerah. Namun tidak semua bahasa yang ada di Indonesia digunakan oleh seluruh warga negaranya. Penggunaan bahasa disesuaikan dengan daerah, umur, tingkat pendidikan dan lainnya. Penggunaan bahasa oleh mahasiswa tentu berbeda dengan anak kecil, masyarakat yang tak berpendidikan, elit politik, atau dengan para pengusaha. Disitulah kita bisa lihat bahwa bahasa dapat menunjukkan strata sosial penggunanya.

 bahasa juga memiliki peranan dalam bidang politik. Mari kita kembali mengingat pembelajaran sejarah pada masa kolonialisme. Negara penjajah ingin mematikan kebudayaan Indonesia melalui bahasa dan menjadikannya negara persemakmuran mereka.

Atau ketika pencetusan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Republik Indonesia. Mengapa pada saat itu Bung Karno memutuskan untuk menjadikan bahasa Indonesia, yang notabenenya mirip dengan bahasa melayu Malaysia sebagai bahasa resmi? Jika kita cermat lebih lanjut, mayoritas penduduk Indonesia tersebar di Pulau Jawa. Bukankah akan lebih mudah jika bahasa nasional diambil dari bahasa daerah di Pulau Jawa? Pertimbangannya adalah, suku bangsa terbanyak di Indonesia adalah Sunda dan Jawa. Akan sulit memilih salah satu dari kedua bahasa tersebut untuk dijadikan bahasa nasional, karena tentu saja ego golongan, dalam artian sukuisme, akan mempengaruhi. Untuk itulah presiden pertama kita dengan netral memilih bahasa Indonesia dari rumpun melayu sebagai jembatannya.Dari contoh-contoh diatas dapat diketahui bukan bahwa pegaruh bahasa sangatlah besar. Kita tidak dapat memandang remeh pembelajaran bahasa, karena bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi, efek bahasa itu sendiri amat besat dalam kehidupan sosial dan politik, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga mempengaruhi politik internasional. Pemerintah Indonesia pun sejak tahun 2009 sudah membuat Undang Undang Kebahasaan yang mengatur penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pembacaan pidato presiden, penamaan jalan, dan lain sebagainya. 

 

Faktor Perkembangan BahasaIndonesia.

 

1.Faktor Kesehatan

Apabila pada usia dua tahun pertama, anak mengalami sakit terus-menerus, maka anak tersebut cenderung akan mengalami kelambatan atau kesulitan dalam perkembangan bahasanya.

2.Intelegensi

Anak yang perkembangan bahasanya cepat, pada umumnya mempunyai intelegensi normal. 

3.Status Sosial Ekonomi Keluarga

Beberapa studi tentang hubungan antara perkembangan bahasa dengan status sosial ekonomi keluarga menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami kelambatan dalam perkembangan bahasanya dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga yang lebih baik.

4.Jenis Kelamin

Pada tahun pertama usia anak, tidak ada perbedaan dalam vokalisasi antara pria dengan wanita.

5.Hubungan Keluarga

Proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga, terutama dengan orang tua yang mengajar, melatih dan memberikan contoh berbahasa kepada anak.

6.Umur Anak

Manusia bertambah umur akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambah pengalaman, dan meningkat kebutuhannya.

7.Kondisi Lingkungan

Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi andil yang cukup besar dalam berbahasa. Perkembangan bahasa di lingkungan perkotaan akan berbeda dengan lingkungan pedesaan.

8.Kondisi Fisik

Seseorang yang cacat akan terganggu kemampuannya untuk berkomunikasi seperti bisu, tuli, gagap atau organ suara tidak sempurna akan menggangu perkembangan berkomunikasi dan tentu saja akan menggangu perkembangannya dalam berbahasa.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar